Antara Kisah Nabi Musa dan Dzulqarnain

*Antara Kisah Nabi Musa dan Dzulqarnain*


Di dalam surat Al-Kahfi ada kisah tentang Nabi Musa yang belajar kepada Khadhir dan kisah Dzulqarnain. Adakah korelasi dan hubungan di antara kedua kisah tersebut?

Jawaban atas pertanyaan ini bisa kita dapatkan dalam buku Nadhmud Durar fi Tanasubil Ayat was Suwar karya Imam Al-Biqa’I (w. 885 H).

Imam Al-Biqa’I menjelaskan bahwa kisah Nabi Musa menghikayatkan tentang rihlah untuk menuntut ilmu, sedangkan kisah Dzulqarnain menceritakan tentang rihlah untuk berjihad. Maka, kata Imam Al-Biqa’I, kisah Nabi Musa lebih didahulukan daripada kisah Dzulqarnain. Ini sebagai isyarat tentang tingginya deraja ilmu; karena ia adalah pokok seluruh kebahagiaan, dan penopang seluruh urusan. (lih. Nadhmud Durar: 12/ 128).

Mari kita mengamati kata-kata, “penopang seluruh urusan”. Makna dari kata-kata ini ialah bahwa seluruh urusan harus didasarkan pada ilmu, tak terkecuali jihad. Maka, sebagian ulama seperti Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarh Riyadhish Shalihin, menjelaskan bahwa ilmu itu lebih utama daripada jihad. Karena jihad pun membutuhkan ilmu.

Dengan demikian, kita pun menjadi faham mengapa kisah Nabi Musa yang menuntut ilmu lebih didahulukan daripada kisah Dzulqarnain. Hal ini karena jihad membutuhkan ilmu. Seolah dua kisah ini mengisyaratkan bahwa orang yang berjihad hendaklah memiliki ilmu tentang hal-hal yang berkaitan dengannya.

Salah seorang ulama pernah mengingatkan, “Orang yang berjihad tanpa ilmu tak ubahnya seperti perampok (qathi’u thariq)” Karena dengan kejahilannya, ia mengambil harta yang tidak halal untuk diambil, dan membunuh jiwa yang haram untuk ditumpahkan darahnya.” Wallahu a’lam bish shawab.

Akhukum fillah,
Ibnu Abdil Bari رحمه الله

No comments