KETIKA LANGIT DIBUKA, KETIKA SEMUA PINTA DIIJABAH
Menit-menit ini khutbah yang paling agung itu akan segera dimulai: khutbah wuquf di Arafah. Hari ini, sembilan Dzulhijah adalah momen yang paling penting bagi jamaah haji.
Tidak sah haji seseorang kalau prosesi wuquf sampai terlewat. Bahkan mereka yang sakit keras pun akan dibawa dengan ambulans untuk disafari wuqufkan.
Satu hal yang saya rencanakan sejak mendapat kepastian keberangkatan haji adalah menyusun target untuk mengkhatamkan Alqur’an di tempat-tempat dan di waktu-waktu yang mustajab selama di Tanah Suci.
Di depan Ka’bah. Di Masjid Nabawi. Dan pada saat wuquf di Arafah.
Hitungan sederhananya, kalau setiap waktu shalat kita bisa menyelesaikan minimal satu juz, maka dalam sehari akan dapat 5 juz.
Sehingga 6 hari sekali bisa khatam 30 juz. Jadi, selama perjalanan haji yang kurang lebih 40 hari setidaknya bisa khatam sekitar 5-6 kali.
Karenanya, begitu sampai di tenda Arafah pada 8 Dzulhijjah, saya langsung konsentrasi untuk meneruskan bacaan yang baru sampai juz 15. Sempat terbersit pikiran, apa bisa selesai 15 juz dalam semalam? Ah, Bismillah saja.
Perlahan saya mulai hanyut dalam bacaan dan tidak ingat lagi sedang berada di mana. Yang terasa hanya kesejukan luar biasa dalam hati. Belum pernah saya membaca Alqur'an senikmat malam itu.
Hari semakin gelap, malam mulai larut, jamaah mulai tertidur. Tiba-tiba saya mendengar suara, "Ojo turu sik, iki isih akeh! -jangan tidur dulu, ini masih banyak.”
Sekilas saya melirik, ternyata ada seorang jamaah yang sedang mengingatkan orangtuanya yang sudah sepuh karena mengantuk saat dibimbing mengaji.
Beberapa kali saya mendengar suara itu. Konsentrasi saya mulai terganggu. Apalagi kepala si nenek itu terayun ke kanan-kiri menahan kantuk. Saya tersenyum melihatnya.
Rupanya si nenek melihat, lalu bertanya dalam bahasa Jawa halus, "Menopo mboten sayah, Mbak?" -Apa tidak mengantuk, Mbak?”
Saya hanya menjawab dengan senyuman. “Ah iya, kenapa saya tidak mengantuk ya dari tadi? Mungkin sebentar lagi juga mengantuk,” batin saya. Kembali melanjutkan mendaras Alqur'an.
Tidak terasa mulai terdengar suara gaduh, rupanya orang-orang terbangun untuk shalat Tahajud. Wah, sudah hampir pagi. Saya lihat jam tangan menjelang pukul 03.00.
Alhamdulillah. Saya lihat bagian Alqur'an sebelah kiri yang terbuka semakin tipis, berarti sedikit lagi. Sejenak saya tutup Alqur’an untuk shalat Tahajud dan witir.
Menjelang Dhuha, selesai juz ke-30. Saya baca doa khatam Alqur’an dengan penuh syukur. “Alhamdulillah ya Rabb, engkau izinkan khatam Alqur’an di tempat dan waktu yang mustajab ini.”
Saya teringat semalam tidak tidur, namun tidak terasa mengantuk sama sekali. Sungguh, Allah terasa sangat dekat di Arafah.
Kumandang adzan Dhuhur mulai terdengar. Usai shalat Dzuhur dijama' qasar dengan Ashar, khutbah wuquf dimulai.
Wuquf secara bahasa artinya berdiam. Itu pula yang saya lakukan.
Saya terus beristighfar dalam diam. Tanpa terasa satu persatu air mata mulai menetes. Makin lama makin deras. Sampai akhirnya saya menangis sesenggukan.
Hari itu, sungguh, Allah bukakan langit untuk mereka yang sedang berwuquf. Semua pertobatan diterima, segala pinta diijabah.
Saya berada dalam penyesalan mendalam atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Semua seperti video kehidupan yang tiba-tiba saja muncul di depan mata.
Astaghfirullah... Astaghfirullah… Astaghfirullah… semakin deras air mata yang jatuh, semakin dalam kalimat istighfar yang terucap.
Doa-doa yang sudah saya siapkan, rasanya seperti tercekat di tenggorokan. Malu yang tak berkesudahan pada Sang Maha Pengampun membuat saya hanya bisa beristighfar berulang-ulang.
"Ya Rabb, berikan yang terbaik menurutMu dan mudahkanlah saya untuk menjalaninya."
Di antara semua pinta yang saya sorongkan ke pintu langit, saya selipkan sebuah doa, “Beri saya jalan untuk bisa berada di jalan dakwah, ya Rabb.” Sesuatu yang waktu itu terasa di awang-awang. Entah bagaimana mewujudkannya.
Lalu berkelebat dalam pikiran saya orang-orang yang begitu saya cintai. Papi, Mama dan adik-adik. Satu per satu saya pintakan yang terbaik untuk mereka.
Suasana terasa sangat dramatis. Semua orang menangis. Larut dalam penyesalan-penyesalan panjang. Penuh harap dan pinta. Mendaraskan segala puja.
Saya membayangkan, mungkin seperti ini suasana penantian di Yaumil Hisab kelak. Ketika semua amalan kita akan dihitung dengan rinci. Tanpa ada yang terlewat sama sekali. Tak ada yang bisa dipinta, selain ampunanNya.
Sebelum menutup doa, saya teringat sesuatu, lalu buru-buru menambahkan, "Ya Allah, izinkan saya untuk kembali dan kembali lagi ke rumahMu."
Alhamdullah, Allah kabulkan semuanya. Saya merasa bersyukur waktu itu meminta yang terbaik menurutNya.
Karena benar saja, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk saya. Melebihi yang saya pinta.
Laailaaha illallah wahdahuu laa syariikalah lahulmulk wa lahulhamd wa huwa 'ala kulli syaiin qadiir...
Jakarta, 10/8/2019
Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang | FB @uttiek_mpanjiastuti | www.uttiek.blogspot.com
No comments