Ketawadhuan Nabi Musa
Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66)
_"Musa berkata kepada Khadhir, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk."_ (Al-Kahfi: 66).
Selain faidah-faidah yang disebutkan, surat Al-Kahfi ayat 66 juga berisi pelajaran lain, di antaranya:
6. Menjaga adab kepada guru
Ini adalah faidah lain yang terkandung dalam surat Al-Kahfi ayat 66, yaitu bahwa seorang murid harus menjaga adab kepada gurunya.
Syaikh As-Sa’di rhm (w. 1376 H) menjelaskan bahwa di antara faidah dari kisah Musa ialah hendaknya seorang murid menjaga adab kepada gurunya, serta berbicara dengan perkataan yang paling lembut, sebagaimana ungkapan Nabi Musa alaihis salam, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Beliau mengeluarkan kata-kata dengan bentuk kelembutan dan musyawarah. Maknanya, “Apakah kamu mengizinkan aku untuk ikut atau tidak?” Dan beliau mengikrarkan bahwa beliau ingin belajar darinya. Berbeda dengan orang-orang yang kasar atau sombong, yang tidak menampakkan rasa butuhnya kepada ilmu di hadapan seorang guru. Bahkan dia mendakwa bahwa dia juga saling tolong menolong dengan sang guru, bahkan terkadang dia merasa bahwa ia sedang mengajari sang guru. Ini adalah tipe orang yang sangat bodoh. Karena ketundukkan kepada seorang guru dan menampakkan rasa butuh untuk diajari termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang murid.” (At-Taisir, hal. 484).
7. Bertawadhu kepada orang yang diambil ilmunya sekalipun kedudukannya rendah
Faidah lain yang terkandung dalam firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 66 ialah hendaknya seorang penuntut ilmu bersikap tawadhu ketika belajar. Sebagaimana Nabi Musa. Bahkan ayat ini mengandung bukti tentang ketawadhua’an orang yang utama untuk belajar kepada orang yang derajatnya ada di bawahnya. Karena, tidak diragukan lagi bahwa Nabi Musa lebih utama daripada Khadhir. (lih. At-Taisir, hal. 484).
Imam Al-Qasimi rhm (w. 1332 H) menukil perkataan Al-Qadhi, “Beliau (Nabi Musa) sangat menjaga puncak ketawadhuan dan adab. Beliau menganggap dirinya jahil, dan meminta izin agar bisa mengikutinya (Khadhir), dan meminta kepadanya agar Khadhir membimbingnya dan berbuat baik kepadanya dengan mengajarkan sebagian ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya.” Maknanya, kata Imam Al-Qasimi rhm, demikianlah seyogianya permintaan seorang murid kepada orang alim (gurunya). (Mahasinut Ta’wil: 7/ 48).
“Kisah ini” kata Imam Ibnul Jauzi rhm (w. 597 H) ketika mengomentari ayat 66 dari surat Al-Kahfi, “memotifasi untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, mengikuti orang yang utama demi mendapatkan kemuliaan, dan mendorong untuk beradab dan bertawadhu’ kepada orang yang ditemani (guru).” (Zadul Masir: 3/ 98).
Untuk mendapatkan tulisan kami secara lengkap, silahkan join channel telegram kami di: https://t.me/liyaddabbaru
Akhukum fillah
Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66)
_"Musa berkata kepada Khadhir, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk."_ (Al-Kahfi: 66).
Selain faidah-faidah yang disebutkan, surat Al-Kahfi ayat 66 juga berisi pelajaran lain, di antaranya:
6. Menjaga adab kepada guru
Ini adalah faidah lain yang terkandung dalam surat Al-Kahfi ayat 66, yaitu bahwa seorang murid harus menjaga adab kepada gurunya.
Syaikh As-Sa’di rhm (w. 1376 H) menjelaskan bahwa di antara faidah dari kisah Musa ialah hendaknya seorang murid menjaga adab kepada gurunya, serta berbicara dengan perkataan yang paling lembut, sebagaimana ungkapan Nabi Musa alaihis salam, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Beliau mengeluarkan kata-kata dengan bentuk kelembutan dan musyawarah. Maknanya, “Apakah kamu mengizinkan aku untuk ikut atau tidak?” Dan beliau mengikrarkan bahwa beliau ingin belajar darinya. Berbeda dengan orang-orang yang kasar atau sombong, yang tidak menampakkan rasa butuhnya kepada ilmu di hadapan seorang guru. Bahkan dia mendakwa bahwa dia juga saling tolong menolong dengan sang guru, bahkan terkadang dia merasa bahwa ia sedang mengajari sang guru. Ini adalah tipe orang yang sangat bodoh. Karena ketundukkan kepada seorang guru dan menampakkan rasa butuh untuk diajari termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang murid.” (At-Taisir, hal. 484).
7. Bertawadhu kepada orang yang diambil ilmunya sekalipun kedudukannya rendah
Faidah lain yang terkandung dalam firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 66 ialah hendaknya seorang penuntut ilmu bersikap tawadhu ketika belajar. Sebagaimana Nabi Musa. Bahkan ayat ini mengandung bukti tentang ketawadhua’an orang yang utama untuk belajar kepada orang yang derajatnya ada di bawahnya. Karena, tidak diragukan lagi bahwa Nabi Musa lebih utama daripada Khadhir. (lih. At-Taisir, hal. 484).
Imam Al-Qasimi rhm (w. 1332 H) menukil perkataan Al-Qadhi, “Beliau (Nabi Musa) sangat menjaga puncak ketawadhuan dan adab. Beliau menganggap dirinya jahil, dan meminta izin agar bisa mengikutinya (Khadhir), dan meminta kepadanya agar Khadhir membimbingnya dan berbuat baik kepadanya dengan mengajarkan sebagian ilmu yang dianugerahkan Allah kepadanya.” Maknanya, kata Imam Al-Qasimi rhm, demikianlah seyogianya permintaan seorang murid kepada orang alim (gurunya). (Mahasinut Ta’wil: 7/ 48).
“Kisah ini” kata Imam Ibnul Jauzi rhm (w. 597 H) ketika mengomentari ayat 66 dari surat Al-Kahfi, “memotifasi untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, mengikuti orang yang utama demi mendapatkan kemuliaan, dan mendorong untuk beradab dan bertawadhu’ kepada orang yang ditemani (guru).” (Zadul Masir: 3/ 98).
Untuk mendapatkan tulisan kami secara lengkap, silahkan join channel telegram kami di: https://t.me/liyaddabbaru
Akhukum fillah

No comments